MAKALAH
( ISBD )

NAMA :
ADRIANUS ARDION MANEK
:
MARLINA I. A. HAUMENI
KELAS / SEMESTER : TKJ D / DUA (2)
JURUSAN / PRODI :
TEKNIK ELEKTRO / TJK (D3)
POLITEKNIK NEGERI KUPANG
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembuatan makalah ini berdasarkan pengumpulan materi untuk
memenuhi tugas Ilmu Sosial Budaya Dasar yang bertemakan tentang sejarah,
asal-usul daerah, letak geografis, dan kebudayaan masyarakat. Kata Belu menurut
penuturan para tetua adat bermakna persahabatan yang bila diterjemahkan secarah
harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti teman atau sobat. Ini merupakan
makna symbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para penghuni Belu
memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa saja. Namun
secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua bagian yaitu
Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang masih terasa
pengaruhnya
B. SASARAN
Sesungguhnya makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kulia ISBD dan bukan itu saja tetapi makalah ini ditujukan kepada semua orang
yang masih belum bisa menghargai kebudayaan yang telah lahir dan berada didalam
lingkungan dimana individu atau suatu kelompok berkumpul. Seorang atau kelompok
yang masih meniadakan kebudayaan dalam berkehidupan bermasyarakat pasti
pertamanya akan meninggikan dirinya sendiri namun saat masyarakat merespon
individu tersebut akan merasakan begitu tidak enaknya dikucilkan dari banyak
masyarakat lainnya. Maka dari itu seharusnya mereka segera sadar dan mulai
menghargai arti dari sebuah kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan
bermasyarakat.
C. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas pada mata kulia ISBD serta tugas inipun dapat berfungsi menyadarkan para
pembaca agar lebih mencintai kebudayaan yang berkembang di dalam lingkungan
sekitar dan kebudayaan yang telah lahir di negara tercinta kita ini yaitu
Indonesia.
BAB II
ISI
A.
SEJARAH KABUPATEN BELU
Kata Belu
menurut penuturan para tetua adat bermakna persahabatan yang bila diterjemahkan
secarah harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti teman atau sobat. Ini
merupakan makna symbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para
penghuni Belu memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa
saja. Namun secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua
bagian yaitu Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang
masih terasa pengaruhnya.
Sedangkan Atambua yang merupakan
Ibukota Kabupaten Belu memiliki sejarah tersendiri. Nama tersebut berasal dari
kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya suanggi. Jadi Atambua artinya
tempatnya hamba-hamba suanggi yang konon di daerah ini dipergunakan oleh para
raja sebagai tempat pembuangan para suanggi yang mengganggu masyarakat.
Kemudian dalam perkembangannya kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “M” .
Hal ini dapat saja terjadi dengan tidak sengaja karena fonem “B” dan “M” masih
memiliki titik artikulasi yang sama sehingga mampu mempertahankan kelancaran
ucapan.
1. Masa Pendudukan Belanda
v 1966-1911: Atapupu pernah jadi pusat
Pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan ini. Sebelumnya Belanda menjalankan
pemerintahan dari Kupang (ibu kota propinsi NTT sekarang)
v 1911-1916: Beredao, yang terletak di tapal
batas dengan Timor Portugis, telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda
v 1916-1942: Pusat Pemerintahan Belanda pindah
dari Atapupu ke Atambua (Ibu Kota Kabupaten Belu sekarang)
2.
Panitia Pemerintahan Sementara (PPS) Swapraja Belu terbentuk
20 September 1923:
Controleur Belu, Van Raesfild Meyer menerbitkan memori tentang Struktur
Pemerintahan di Wilayah Belu, yang meliputi seluruh wilayah Belu plus Insana,
dan Biboki di TTU (sekarang)
3. Belu
dibawah Dai Nippon
v 20 Pebruari 1942: Tentara Jepang mendarat di
Batulesa, Kab. Kupang (sekarang), di bawah pimpinan Jendral Hayakawa.
v 8 Maret 1942: Belanda menyerah tanpa syarat
kepada Jepang
v April 1942: Tentara Dai Nippon masuk
Atambua. Controleur Belanda, Mr. H.C. de Haan dan keluarga ditawan.
v Pemerintahan Jepang di Belu
dikendalikan dari laut oleh Onderafdelling yang dipimpin pembesar Jepang dengan
sebutan : Atambua Bun Ken.
v Romusha: Sistem kerja paksa diterapkan
Jepang atas rakyat Belu. Rakyat wajib membuat lubang-lubang perlindungan dan
pertahanan bagi tentara Jepang (masih ada di Teluk Gurita sampai sekarang)
4.
Lahir Kabupaten Belu
v 6-8 Agustus 1945: Jepang menyerah kepada AS
(sekutu), atas seruan Kaiser Tenno Heika. Berakhir pula pendudukan tentara Dai
Nippon di Indonesia termasuk Belu.
v 29 Oktober 1958: Lahirlah UU No. 69 Tahun 1958,
tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah Tingkat I
Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan terbentuk pula Daerah
Tingkat II Belu
v Pejabat Pemerintahan Belu :
Alfonsius Andreas Bere Tallo sebagai Kepala Daerah Tingkat II Belu
v 20 Mei 1959: DPRD Peralihan Daerah Tk. II
Belu yang terdiri dari 15 Anggota dengan Ketua B.J Manek dan Wakil Ketua C. Mau
v 16 Pebruari 1960: Bupati pertama terpilih atas
nama A.A. Bere Tallo, dan dilantik oleh Gubernur NTT W.J. Lalamentik pada 9 Mei
1960
B.
ASAL
– ASUL SUKU BELU
I.
Menurut
cerita-cerita yang diwariskan sampai sekarang di Daerah.
MALAKA adalah : tanah asal-usul Belu.
Sedari masih kecil bila kita mendengar makoan-makoan dan orang tua-tua atau
pemuka adat membawa syair Tetun HOLA LIA
NAIN, maka kita sering mendengar SINA
MUTI MALAKA LARANTUKA BABOE. Bila mereka menyebut nama ini, tiap orang
terus tahu, yang dimaksutkan ialah : Tanah Asal Nenek Moyang Beluyang dulu
berlayar dari Malaka, meninggalkan tanah airnya dan mencari tempat baru untuk
dihuninya. Nenek oyang suku Belu dari Malaka dalam pelayarannya ke Timor,
melalui Larantuka.
Berikut ini
adalah kumpulan bermacam-macam cerita dari makoan-makoan dan pemuka-pemuka adat
di wilayah Belu, baik berasal dari Belu utara maupun dari Belu Selatan. Ini di
kumpulkan oleh R.B.A.G. VROK LAGE SVD (±1952) dalam kerjasama dengan para
makoan dan beberapa guru, antara lain Bupati Daswati II Belu sekarang (hingga
tahun 1968) A.A BERWE TALLO, yang mahir berbahasa Belanda dan bertugas sebagai
penterjemah untuk P. VROK LAGE.
1) Menurut Makoan-makoan dari FATUARUIN:
Mula-mula
datang nenekmoyang tiga bersaudara dari Malaka Likansala melalaui Larantuka
(Flores) terus ke Kupang, dari dari Kupang ke Fatumea melalui Hali knain
Kalilin dan terus ke Marlilu. Nama ketiga nenek bersaudara itu : NEKIN MATAUS ke Likusaen, SAKU MATAUS ke kerajaan Sonbai, dan BARA MATAUS tinggal di FATU ARUIN.
2)
Cerita
kedua berasal dari DIRMA:
Menurut
makoan disitu : Bei Taeko yang bertempat tingal di Malaka mengirim tiga orang
anaknya lelaki yang berlayar dengan kapal ke Timor, bersama dengan
pengikut-pengikutnya. Dari Sinamuti Malaka mereka berlayarmelalui Betawi dan
Batavia, Kalaban atau Kalabahi, Larantuka-Flores, Babo-Dilly parasa terus ke
Boonaro. Mereka lalu ke Fatumea Raioan atau daerah Portugis. Ketiga putra itu
bernama : LOROSANGKOE, LOROBANLEO, dan LORO SONBAI. Yang
pertama tinggal di Debululik atau Welaka, yang ke dua di sanleo atau Dirma, dan
yang ketiga ialah LORO SONBAI, terus kebagian barat timur ialah kebagian Dawan.
Kemudian membawa lima orang yang dianugerahkan Tuhan: HARE LOROK, BATAR LOROK, MELI (AIKAMELIN), LOROK dan BUI LOROK serta TORA LOROK.
Kelima
orang tersebut di tanam hidup-hidup dalm tanah ke sampai Timor. Dalam tempo
beberapa hari saja tumbuhlah jagung, padi dua maca, jewawut atau tora, kayu
cendana atau aikamelin, di kebun-kebunnya. Kesimpulannya dan cerita ini ialah
jagung, padi, kayu cendana, jewawut, dibawah oleh nenek moyang itu dari tanah
asal Sinamuti Malaka, dan kebun tempat lahan pertanian bagi kelima orang itu
namanya TOOS KUKUN.
3)
Dari
NAETIMO:
Menurut
makoan-makoan dari Naetimo nenek moyang pertama asalnya dari Sinamuti Malaka,
melalui Larantuka atau Larantuke, Bauwoe, Parasa atau Timor Dili terus ke
Lakaan dari situ terus ke Nainait. Di nainait mereka menetap. Nenek moyang itu
bernama AGON dengan isterinya LURUK. Mereka mempunyai anak, dan
anak-anak itu membentuk Fukun Hat atau Uma Hat yakni: Empat suku yang terkenal
dengan nama RIN BESI HAT, UMA KAKALUK
KMESAK, UMA FUTUHUR, UMA SUKUR SOU, dan UMA DIN DULUR. Nenek moyang pertama menemui suku asli Belu yakni : MELUS di Naijait.
4)
Dari
DAFALA:
Menurut
Dato Katuas Tafala atau nenek moyang TITUS
MORUK, nenekmoyang pertama itu dating dari Sinamuti Malaka melalui Ninobe
Raihenek atau Makasar, terus ke larantukadan Bauwoe sebuah tempat di Larantuka.
Tapi sebelum ke Larantuka mereka dari Makasar melalui Palu Kusu atau dekat
dengan kepulauan Kei, pulau loi, pulau Abe, dan pulau Kae atau Kei. Mereka
mendarat di Hale, LeonSumamar di dekat Timor Dilimereka lantas menyusur Mot
aloes atau sungai Loes, terus Ke Siata mauhalek di Lasiolat. Berjalan terus ke
ren Lakmau, dari situ terus Tua Lasi-Lasi Olat baru kemudian terpencar
keseluruh Belu. Nenek moyang pertama umumnya mendarat dibahagian pantai utara
Belu. Dikatakan pertama nenek moyang itu keluar dari batu, ini dimaksudkan
mereka bertempat tinggal dalam gua-gua batu ketika belum diperdirikan
rumah-rumah yang baik pada saat pertama kali orang di Belu, yang sama seperti
cerita makoan-makoan di Dirma.
Kedua
nenek moyang pertama yang terkenal sebagai Bot Leten dan Bot kraik ialah Bei
Lelar dan Bei Seran Taek, yang punya anak-anak para Lelar dan Abu Lelar serta
Asa Taek dan mau Taek.
5)
Dari
LASIOLAT:
Menurut makoan-makoan yang mula-mula menghuni daerah
Fialaran-Lasiolat sebelum kedatangan nenek moyang suku Leowes dan Asutalin dari
Malaka ialah suku Melus, nenek moyang yang pertama orang Melus bernama LERA BAUK dengan istrinya bernama LENA BAUK. Mereka dianggap penduduk sli Belu sebelum datangnya suku
Belu dari Malaka. Suku-suku yang datangnya dari Malaka ialah suku Leoklaran,
suku Leowes, dan suku Asutalin. Dari Sinamuti Malaka mereka berlayar terus ke
Larantuka –Bauboe, terus ke Hasan Maubesimendarat di Weto ke Lakaan dan dari
situ ke Mota Weluli Mauhalek. Mereka menemukan seorang Melus pertama yang
mendirikan rumahnya di Nawan Ruas, Aufatuk. Disebut Aufatuk karena rumahnya
terbuat dari bambu dan batu. Pemuda-pemuda suku Leowes mengawini gadis-gadis
dari suku Loro Bauho, bernama Balok Lorok dan Ello lorok. Mereka lalu pindah
dengan anak-anaknya ke Dualasi dimana orang-orang Melus dan Asutalin sudah
lebih dahulu membuat kampungnya. Dualasi kemudian mendapat nama Dualasi
Sosebauk. Orang-orang pertama yang mendarat di Timor ialah Luli Luan dan Lete
Luan. Asutalin juga kemudian mendarat di pantai selatan Belu. Tempatnya yang
lain ialah Aidikur dari situ juga mereka ke Lakaan dan terus ke Dualasi. Dari malak Asutalin bawa serta anjing. Suku
Asutalin haramm makan daging anjing dan tidak membunuhnya.
Nenek moyang suku Leoklaran dating lebih dahulu dari suku
Leowes, dan Asutalin dan mengalahkan suku Melus ke Tasimane lainnya dibunuh dan
hanyut terbawa arus. Yang sisanya masih ada di Haliren, Aikamelin, rend an
Motaain. Dalam mengalahkan suku Melus itu ada kerjasama dengan suku Leowes yang
datang kemudian itu. Setelah suku Melus itu diusir dan dikalahkan oleh suku
Leoklaran dan Leowes mula saling berebut kekuasaan ini, suku Leowes yang
kemudian yang akhirnya menduduki tahta dan berkuasa sebagai raja diFialaran
sampai kini. Caranya ialah bukan saling memerangi, melainkan dengan menguji
ketangkasan dan kecerdasan saja. Siapa yang cepat makan ialah yang berkuasa dan
waktu nenek moyang Leowes pergi mencari musang dihutan, nenek moyang Leoklaran
disuruh memanjat pohon, dibawah pohon tertancap tombak mas, oleh nenek moyang
Leowes. Entah bagaimana jadinya nenek moyang Leoklaran jatuh dari pohon dan
persis perutnya tertikam pada tombak mas tadi, dengan itu nenek moyang Leowes
yang berkuasa . Namun selanjutnya hubungan antara suku Leowesa dan suku
Leoklaran , pun sampaikini tetap erat lebih dipererat oleh perkaeinan antara
dua suku.
6)
Dari
ASUMANU:
Menurut makoan dari Asumanu nenek moyang pertamanya datang
dari Malaka dengan sebuah kapal namanya Batarian, mendarat dipuncak Lakaan yang
merupakan daratan yang muncul waktu itu dari air (agaknya yang lain masih
merupakan tempat yang masih digenagi air laut). Kapten kapal itu namanya
Mangelains, apakah itu yang dinamakan dengan Magelhaens??
7)
Dari
AITON
Menurut
makoan-makoan dari Aitoun nenek moyang pertama datang dari Sina Mutin Malaka
dengan tiga buah kapal:
a. Kapal yang dijuluki dengan Ro Manu
Lain, Biduk Manu Lain.
b. Rokfautahan, Biduk Kfautahan
c. Ro Mara Does, Biduk Mara Does.
Tempat lainnya disebut HeranBa weluli, Aitoun rua mane, Foho sabu Lakan
kaisahe.
8)
Dari
MAUMUTIN:
Makoan-makoan
maumutin menceritakan tentang asal-usulnya bahwa nenek moyang pertama datangnya
dari Sina (Siam/birma) dan dari Sina Mutin
Malaka Melalui Larantuka Baboe, lamahala (Adonara) Lamahera (lomblen)
terus ke Kamera (dekat Timor Dili). Kemudian kembali ke Lamalera untuk mengambil
istri dari sana. Kemudian mereka kembali lagi ke Sina Mutin Malaka karena tidak
dapat istri di Lamalera. Dimalaka mereka dapat memperoleh istri dengan kayu
cendana yang dibawanya. Di Maumitin sendiri kayu cendana tidak ada karena itu
kemudian nenek moyang pindah ke Maukatar didaerah bagian portugis . Untuk
memperingati nenek moyang yang datang dengan tiga kapal itu, didirikan tiga
foho (tugu kecil) : Foho Liurai, Foho Tahan Leki Bauk Leowalu.
9)
Dari
LIDAK:
Nenek
moyang datang dari Sina MUtin Malaka melalui Larantuka Baboe We bau, Asufuik,
Maubesi, Wehali lalu terus ke Lidak. Sumber lainnya menggatakan mereka mendarat
dipantai utara Timor di Timor Dili Parasa. Dari Parasa mereka juga membawaair
dan ketika mereka mendarat direceki tempat itu denga air. Mereka hanya
mengetahui bahwa orang melus bertempat tinggal di Silawan. Kemudian menyusul lagi beberapa suku
yang kelak akan berkuasa di Belu. Mereka datang dari Malaka nenek moyang ada
tujuh pasang, empatnya tinggal di Malaka tiganya berlayar ke Timor melalui
Larantuka-Bauboe, satunya tinggal di Fatumea, kedua tinggal di Leowalu
(dimarae0 dan yang ketiga tinggalnya di Motaain, namanya Dasi Bada Rai.
10)
Sabu Mau-Belu
Mau dan Timau:
Adalah
suatu yang sangat populer dikalangan penduduk Belu dan Sabu Rote ialah mengenai
asal-usul mengenai nenek moyang suku Belu dan Sabu Rote. Demikian sudah dari
kecil kami sudah mendengar cerita tentang Belu Mau, sabu Mau, dan Ti Mau dari
orang tua dan kakek kami. Ketiga nenek ini adalah beradik kakak. Sabu Mau dan
Ti Mau bersama dengan seluruh keluarganya berlayar dengan kapal ke Timot dan
mendarat di bagian utara Belu yakni di teluk Gurita (di Atapupu) yang turun
kedarat untuk mencari tempat tinggal baru di daerah Belu sekarang ialah Belu
Mau dengan keluarganya. Sedang kedua nenek Sabu dan Ti Mau berlayar terus
kearah barat Timor, menyususr pantai untuk mencari tempat tinggalyang baru dan
tempat dan untuk di milikinya. Tapi sebelum ketiganya berpisah, diadakan
perjanjian berikut : “Bila kelak mereka bertemu kembali atau anak-anak maupun
turunan mereka, tidak boleh saling mengawini, tidak boleh saling berperang,
saling mnerima dan menganggap sebagai kakak-beradik atau saudara-saudari
sekeluarga saja”. Perjanjian ini masih
di ingat samapai dengan saat ini, meskipun masih ada praktek kawin mwin sudah
sering terjadi antara suku Belu dan suku rote. Untuk saling memerangi atau
berkelahi sampai sekarang ini, masih tetap dihindarkan mengingat perjanjian
ketiga nenek bersaudara tadi.
II. Asal-usul suku Belu (Sabu – Rote)
menurut penyelidikan
Ahli-ahli Ilmu Bangsa-bangsa dan Ahli-ahli lainnya. Sudah
banyak ahli-ahli yang menyeliki suku Belu (dan Rote), disamping penyelidikan –
penyelidikan utama, seperti: Grijzen, H.J. (mededeelingen Omret Beloe of midden
Timor. V.B.G., Batavia, vol.54, Bag.III) dan vrok lege. B.A. (1953) :
Ethnogogihie der Belu in zentral Timor, Leiden, dalam 3 jilid. Dalam
menyelidiki Suku Belu mereka dari pandangan yang hampir serupa. Demikian seperti
:
1)
Heijmering
G. (Geschiedenis van Timor, 1847, vol. 9, bagian III, pg. 1 – 62 dan 121 -232),
dan veth, P.j. (Het eiland Timor, De Gids, Amsterdam, Vol.19. Bgn. I, pg. 545 –
611 dan 695 – 737 : bgn. 55 – 100), dalam tahun 1985”, dan juga Bastian A. (1885
– Timor Und Umliegende Inseln. in Indonesian oder die inseln des Malayischen
Archipels, Berlin, Lieferung 2, pg. 1 -31). ketiga penyelidik itu berpendapat
bahwa, bahwa ada perbedaan yang nyata antara suku Belu dan suku asli Timor : suku
Atoni. menurut mereka suku Atoni lebih mirip dengan orang Papua, sedangkan suku
Belu punya kesamaan yang besar dengan penduduk di bagian barat indonesia.
2)
Menurut
pandangan-pandangan antopolog modern : Timor serta pulau-pulaunya adalah suatu
daerah peralihan di mana bertemu dan saling pengaruh antara komponen ras Melayu
Indonesia dengan ras Melanesia (in sensu lago). Agaknya suku marae dan kemak
menunjukkan elemen Melanesia yang lebih tua, dari pada suku Belu dan Sabu Rote
yang baru masuk kemudian di Timor. Suku Belu dan Rote nyatanya memiliki tempat
tinggi yang paling tampan, ditanah rata sepanjang pantai dan terus ke
pedalaman, namun di sepanjang lembah sungai lalu sepanjang jalan.
Antropolog-antropolog sependapat bahwa unsur Melanesia nampak sangat kuat pada
penduduk asli Timor : suku Atoni di Dawan (orang pegunungan yang jumlahnya
kira-kira 300.000 penduduk mendiami daerah-daerah pegunungan Timor Indonesia.
Tokoh badan mereka agak berlainan dengan tetangga-tetangganya: suku
Belu-Sabu-Rote dan Kemak Marae. Mereka agak pendek dengan bentuk tengkorak
Brachichepel (tengkorak pendek) dengan warna kulitnya coklat kehitam-hitaman,
rambutnya keriting, sangat mirip orang-orang papua. (cf. ormeling, F.J. Dr. The
Timor problem, 1957 hal. 66-67).
3)
Menurut
penyelidikan Biljmer, H.J.T. (outlines of Antropology of the Timor Archipelago,
Weltevreden-Batavia, 1929, pg. 92-92-95—97-99), bahwa pada individu-individu
suku bangsa Belu nampak ciri-ciri ras Negroit secara berdampingan atau campur
baur. Sedangkan pda suku Atoni (dawan) nampak ciri-ciri Melanesoit dan
Australoid. Dia berkesan bahwa pada suku Atoni ia tidak rasa lagi bahwa ia di
antara orang Melayu. Mereka merupakan kesatuan. Dia menyelidiki juga suku
Manggarai dan mendapatkan adanya ciri khas tipe semitis pada mereka. Pada suku
Ngada terdapat tipe Melanesoid. Pada suku Adonara (dan Flotim) ada tipe
semitis, Negroid dan Papua. Demikian Biljmer.
4)
Menurut
nona Keers W. (an Antropological Survey of the estern litllesunda island
Mededeelingen no. 74 diterbitkan oleh Koninklijke verehining indisch institut,
Amsterdamtahn 1948) bahwa ciri-ciri Melanesia agaknya tersebar dibanyak tempat
di Timor. Tetapi yang dianggapnya utama ialah apa yang dinamakan proto Melayu
yang besar pengaruh di Timor. Tapi yang dianggapnya utama ialah apa yang dinamakan
Elemen proto Melayu, yang bear di
Timor, dan rasini yang membentuk penduduk sekarang juga. Inilah juga pendapat
Biljmer (1929) dan Lamres (1948) yang memastikan bahwa unsur Melayu yang lebih
muda benar-benar terdapat di daerah Belu selain unsur Melanesia.
5)
Mengenai
suku Marae dan Kemak, yang ada di Belu Menurut Grijzen (1904) kira-kira mereka
sudah tinggal lama di Belu.
6)
Menurut
Nona Keers (1948) susku Marae Kemak, yang ada di Belu berbeda dengan suku
Melayu Indonesia karena frekwensi yang tinggi dan tengkorak kepala yang
berbentuk Delichecephalik (tengkorak lonjong) dan tokoh badan yang jauh lebih
tinggi.
7)
Menurut
Capel (1944) bahwa Buna(bahasa Marae) mirip sekali dengan bahas-bahasa papua.
Sedang menurut Nona Keers 91948) susku Kemak punya pertalian erat dengan suku
Marae. Bahasanya mirip sekali dengan bahasa Buna (caell 1944).
8)
Mengenai
suku Rote-Sabu seperti telah di katakan tadi seasal dengan suku Belu. Mereka
datang berkelompok-kelompok, lain turut Flores lainya lagi via Timor. Tanah
asalnya pulau Seram (?) menurut ten Kate (1849) bahasa dan kebudayaan Rote sama
dengan Belu. Hanya Rote mempunyai unsur Melayu lebih kuat.
9)
Terra
(1953) punya anggapan bahwa yang mula-mula punya usaha sawah dan ladang ialah
suku Belu.
10)
Dalam
ENCHIKLOPEDIA VAN NEDERLANDS OOST INDIE IV LEIDEN, 1921 pda halaman 323,
dibahas juga tentang penduduk dari Malaka melalui Sulawesi-Flores (larantuka)
terus ke Timor. Juga tentang adat-istiadat Belu dan keadaandaerahnya.
11)
H.K.J.
Cowan (1963) menyelidiki, bahwa bahasa Buna termasuk salah satu bahasa Irian Barat. Diantara lain
menyebut beberapa kata seperti (n) iri, su, batohul, bi, pana, per, nei, ei,
yang mirip betul dengan kata-kata dalam bahasa Irian Barat. (cf. Eydarg. T.,1.
en volk, jgr. 1963, pg 387 - 400) sedang Louis Berthe (1959) dalam
penyelidikannya di Lamaknen mendapat kepastian juga bahwa dalam bahasa Buna
terdapat kata-kata yang mirip dengan kata-kata Melayu purba (Deutero
Melayu). (cf. Eydarg. T.,1. en volk,
1959, pg 336 dan seterusnya).
12)
Abdul
Hakim (1961), juga memuat karangannya
tentang Timor, di dalamnya dituliskan tentang apa yang di dengarnya sendiri
mengenai asal-usul orang Belu yang datang dari Malaka dan adat istiadatnya di
Timor, di Belu khususnya.
C.
LETAK GEOGRAFIS
1.
Letak Geografis & Administrasi
Kabupaten
Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur Timur dan 8″57’ – 9″49’
Lintang Selatan. Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Belu adalah
sebagai berikut:
v Sebelah Utara : Selat Ombay
v Sebelah Selatan : Laut Timor
v Sebelah Barat : Kabupaten TTU dan
TTS
v Sebelah Timur : Negara Republic Democtratic
Timor Leste (RDTL)
Luas administratif Kabupaten Belu
adalah 2.445,57 Km2 dan menurut data Bagian Pemerintahan Desa Kantor Bupati
Belu hingga tahun 2005, Kabupaten Belu terdiri atas 17 wilayah administratif
Kecamatan dan 207 wilayah Desa/Kelurahan, 25 Desa diantaranya masih Desa
Persiapan dan 1 Desa UPT (Transmigrasi). Ke-17 wilayah Kecamatan tersebut
merupakan hasil pemekaran wilayah tahun 2004, dimana pada masa sebelum itu
wilayah Kabupaten Belu hanya terdiri dari 12 wilayah Kecamatan dan 166
Desa/Kelurahan. Ke-5 tambahan wilayah kecamatan hasil pemekaran tersebut adalah
Kecamatan Wewiku dan Kecamatan Weliman hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka
Barat; Kecamatan Lasiolat hasil pemekaran dari Kecamatan Tasifeto Timur; serta
Kecamatan Raimanuk dan Kecamatan Laenmanen hasil pemekaran dari Kecamatan
Malaka Timur.
Pembagian administrasi Kabupaten Belu dapat dilihat berikut ini :
Pembagian administrasi Kabupaten Belu dapat dilihat berikut ini :
v Kecamatan Malaka Barat
v Kecamatan Malaka Tengah
v Kecamatan Wewiku
v Kecamatan Weliman
v Kecamatan Raimanuk
v Kecamatan Sasitamean
v Kecamatan Laenmanen
v Kecamatan Kobalima
v Kecamatan Tasifeto Barat
v Kecamatan Tasifeto Timur
v Kecamatan Rinhat
v Kecamatan Raihat
v Kecamatan Kota Atambua
v Kecamatan Kakuluk Mesak
v Kecamatan Lamaken
v Kecamatan Lasiolat
v Kecamatan Malaka Timur
2. Klimatologi
Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid),
dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,5 0 –
33,7 0 C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,6 0C. Temperatur udara
tertinggi 33,7 0C terjadi pada Bulan Nopember, sedangkan temperatur udara
terendah 21,50 terjadi Bulan Agustus. Biasanya hujan turun antara Bulan
Desember sampai Bulan Maret, sedangkan kemarau berlangsung antara Bulan April
sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903
mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm.
Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah
hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di
stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.
3. Topografi
Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat
dikelompokan atas beberapa kelompok berdasarkan ketinggian tempat diatas
permukaan laut. Keadaan topografi Kabupaten Belu dirinci seperti berikut di
bawah ini :
v Ketinggian 0 – 230 m dpl seluas
98,349 Ha (40,12 %)
v
Ketinggian
230 – 500 m dpl seluas 95,958 Ha (39,12 %)
v
Ketinggian
500 – 750 m dpl seluas 30,710 Ha (12,56 %)
v Ketinggian 750 – 1000 m dpl seluas
17,240 Ha (7,03 %)
4. Karakteristik Tanah
Wilayah Kabupaten Belu terbentuk
oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di
bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang
subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang
memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di
seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang
bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.
Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari :
Kedalaman Efektif Tanah
Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari :
Kedalaman Efektif Tanah
v 0 – 30 cm seluas 21.191 Ha (8,67%)
v
30
– 60 cm seluas 28.204 Ha (11,53%)
v
60
– 90 cm seluas 3.840 Ha (1,57%)
v
90
cm seluas 191.322 Ha (78,23%)
1) Tekstur Tanah
Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)
Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)
2) Drainase
Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)
Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)
3) Erositas
Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)
Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)
5. Hidrologi
Air tanah
yang ada terdiri dari air tanah bebas dan air tanah tertekan. Air tanah bebas
umumnya dangkal dan mengikuti kondisi morfologinya, sedangkan air tanah
tertekan terletak jauh di dalam tanah dengan lapisan kedap air. Pada setiap
kecamatan di Kabupaten Belu banyak dijumpai air tanah tertekan. Sedangkan air
tanah bebas umumnya terdapat didaratan dekat pantai pada endapan alluvial dan
dekat dengan permukaan tanah.
D.
KEBUDAYAAN MASYARAKAT
1.
Proses Upacara Adat Daerah Belu
a.
Prosesi Upacara Hamis Batar
Upacara Hamis Batar merupakan salah satu bentuk kegiatan yang
dilakukan oleh masyarakat Belu yang dipimpin oleh Tetua Adat nya menyambut
musim petik jagung atau panen jagung, sebagai wujud rasa syukur dan terima
kasih kepada Sang Pencipta.
Hamis menurut bahasa setempat berarti sukur dan batar
berarti jagung. Masyarakat percaya bahwa hasil jagung yang akan mereka peroleh
merupakan karunia Sang Pencipta. Rasa syukur ini diwujudkan dengan
mempersembahkan jagung yang terbaik hasil panen kepada Yang Maha Kuasa.
Sebelum upacara dimulai para
kepala keluarga turun ke kebun masing-masing untuk memetik sebuah jagung
termuda dan paling bagus. Setelah itu mereka berkumpul di tempat upacara dan
diadakan seleksi jagung yang paling bagus. Jagung yang paling baik kemudian
diletakkan di troman (tiang agung) yang terbuat dari tumpukkan
batu yang dikelilingi batu-batu kecil untuk meletakkan jagung baik yang
lainnya.
Setelah semua batu tertutup oleh jagung muda, Ketua Adat
kemudian memimpin doa persembahan jagung kepada Sang Pencipta dan memohon agar
jagung yang dipanen bermanfaat. Seusai berdoa, upacara dilanjutkan dengan
menyebar jagung-jagung ke seluruh kebun untuk dipersembahkan kepada Penguasa
Tanah, Foho Norai, yang telah memberikan tanah dan kesuburan
jagung.
Upacara dilanjutkan dengan batar babulun, pencabutan pohon
jagung secara utuh, untuk dibawa ke kampung dan diikat pada tiap-tiap kayu
tiang agung yang sesuai dengan fungsinya, yaitu karau sarin(untuk
beternak sapi), fahi ahuk (untuk beternak babi), dan fatuk(untuk
orang-orang tua atau ektua adat).
Seiring dengan upacara tersebut diadakan batar fohon, yaitu
acara pemotongan batang buah jagung menjadi 12 potong untuk diserahkan kepada
Ketua Adat, dan selanjutnya Ketua Adat menentukan waktu upacara inti.
Upacara inti hamis batar itu sendiri
merupakan proses persembahan sesaji/jagung-jagung yang baik yang telah dikupas
dan dibakar kemudian dimasukkan kedalam gantang penyimpanan jagung yang disebut
hane matan untuk dipersembahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat (We
Lukik, Rai Bot dll).
Pada proses pembakaran jagung, api yang digunakan merupakan
api khusus yang disebut Tahu Hai yang dibuat oleh ketua adat
dengan menggosokkan sepotong batu berwarna merah dengan sepotong besi yang
disertai serbuk dari pohon enau. Pembakaran dilakukan dengan tiga buah tungku
yang diiringi dengan pembacaan doa oleh ketua adat.
b.
Hatama Manaik
Upacar hatama manaik merupakan pelengkap
upacara hatama batar, yaitu proses upacara persembahan jagung muda (manaik) dari
masyarakat kepada pemimpin masyarakat/raja sebagai ungkapan rasa terima kasih
dan penghargaan atas kepemimpinannya. Dalam proses upacara hatama manaik
dari awal hingga akhir diatur oleh penghubung raja yang biasa disebut
Kaburai.
(Sumber : Usman D. Ganggang, tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Media Karya, November 1994)
(Sumber : Usman D. Ganggang, tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Media Karya, November 1994)
2.
Tari Likurai dari Malaka 

TARI LIKURAI berasal dari Kabupaten Belu. Tarian Likurai
dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang ditarikan ketika menyambut
atau menyongsong para pahlawan yang pulang dari medan perang.
Konon ketika para pahlawan yang pulang dari medan perang
dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan).
Maka para feto (wanita) cantik atau gadis-gadis cantik terutama mereka yang
berdarah bangsawan menjemput para Meo (pahlawan) dengan membawakan tarian
Likurai dan didampingi beberapa mane (laki-laki) sambil menari (haksoke)
membawa pedang.
Likurai itu sendiri dari bahasa Tetun (suku yang ada di
Belu) mempunyai arti menguasai bumi. Liku artinya “menguasai” dan Rai artinya
“tanah dan bumi”. Lambang tarian ini adalah wujud penghormatan kepada para
pahlawan yang telah menguasai atau menaklukan bumi, tanah air tercinta.
Tarian adat ini ditarikan oleh feto-feto kebas
(wanita-wanita cantik) dengan menggunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk
lonjong terbuka dan salah satu sisinya dan dijepit dibawah ketiak sambil pukul
dengan irama gembira dan berlenggak lenggok diikuti dengan derap kaki yang
cepat sesuai irama pukulan.
Beberapa pria menari (haksoke) dengan membawa pedang yang
berhiaskan perak sambil mengancungkan pedang atau perang sebagai ekspresi
kegembiraan dan kebanggaan sambil berteriak memberikan keberanian menyambut
para pahlawan yang pulang dari medan perang dengan membawa kepala musuh sebagai
lambing kemenangan. Kepala musuh yang dipenggal itu dibuang ditanah dan
ditendang sebagai tanda penghinaan dan kemudian diletakkan di atas altar persembahan
terbuat dari susunan batu yang disebut Ksadan dengan upacara adat (mantra).
Sekarang tarian Likurai digunakan untuk menjemput para
pejabat/tamu atau acara-acara hiburan lainnya dan menjadi tarian yang paling
terkenal dari Kabupaten Belu.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Suku Belu yang
berada di daerah Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur
Timur dan 8″57’ – 9″49’ Lintang Selatan. Secara geografis batas-batas wilayah
Kabupaten Belu adalah sebagai berikut :
v Sebelah Utara : Selat Ombay
v Sebelah Selatan : Laut Timor
v Sebelah Barat : Kabupaten TTU dan
TTS
v Sebelah Timur : Negara Republic Democtratic
Timor Leste (RDTL)
Luas administratif Kabupaten Belu adalah
2.445,57 Km2 merupakan suku yang memiliki berbagai kebudayaan, mulai dari adat
istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, serta sejarah terbentuknya Suku
Belu yang katanya sangat erat kaitanya dengan suku Rote, dan Sabu dan
lain-lain. Semua itu
membuktikan bahwa Suku Belu merupakan suku yang kaya akan budaya daerah. Tidak
hanya dibidang kesenian, Suku Belu juga memiliki berbagai macam budaya daerah
yang sangat menarik.
B. SARAN
Budaya daerah merupakan faktor utama
berdirinya kebudayaan nasional, maka segala sesuatu yang terjadi pada budaya
daerah akan sangat mempengaruhi budaya nasional. Atas dasar itulah, kita semua
mempunyai kewajiban untuk menjaga, memelihara dan melestarikan budaya baik
budaya lokal atau budaya daerah maupun budaya nasional, karena budaya merupakan
bagian dari kepribadian bangsa.

nice share..
BalasHapusoia kak boleh tanya gak apa itu arti dari verkumber dan vermember? tolong dibantu ya kak
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus