Selasa, 20 Oktober 2015

FUNGSI KOMPONEN - KOMPONEN MOTHERBOARD BESERTA GAMBAR

MAKALAH
( ISBD )

images2.jpg

NAMA                            : ADRIANUS ARDION MANEK
                                : MARLINA I. A. HAUMENI
KELAS / SEMESTER  : TKJ D / DUA (2)
JURUSAN / PRODI      : TEKNIK ELEKTRO / TJK (D3)

POLITEKNIK NEGERI KUPANG
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembuatan makalah ini berdasarkan pengumpulan materi untuk memenuhi tugas Ilmu Sosial Budaya Dasar yang bertemakan tentang sejarah, asal-usul daerah, letak geografis, dan kebudayaan masyarakat. Kata Belu menurut penuturan para tetua adat bermakna persahabatan yang bila diterjemahkan secarah harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti teman atau sobat. Ini merupakan makna symbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para penghuni Belu memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa saja. Namun secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua bagian yaitu Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang masih terasa pengaruhnya

B.  SASARAN
Sesungguhnya makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kulia ISBD dan bukan itu saja tetapi makalah ini ditujukan kepada semua orang yang masih belum bisa menghargai kebudayaan yang telah lahir dan berada didalam lingkungan dimana individu atau suatu kelompok berkumpul. Seorang atau kelompok yang masih meniadakan kebudayaan dalam berkehidupan bermasyarakat pasti pertamanya akan meninggikan dirinya sendiri namun saat masyarakat merespon individu tersebut akan merasakan begitu tidak enaknya dikucilkan dari banyak masyarakat lainnya. Maka dari itu seharusnya mereka segera sadar dan mulai menghargai arti dari sebuah kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

C.  TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kulia ISBD serta tugas inipun dapat berfungsi menyadarkan para pembaca agar lebih mencintai kebudayaan yang berkembang di dalam lingkungan sekitar dan kebudayaan yang telah lahir di negara tercinta kita ini yaitu Indonesia.
BAB II
ISI

A.   SEJARAH KABUPATEN BELU
Kata Belu menurut penuturan para tetua adat bermakna persahabatan yang bila diterjemahkan secarah harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti teman atau sobat. Ini merupakan makna symbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para penghuni Belu memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa saja. Namun secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua bagian yaitu Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang masih terasa pengaruhnya.
Sedangkan Atambua yang merupakan Ibukota Kabupaten Belu memiliki sejarah tersendiri. Nama tersebut berasal dari kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya suanggi. Jadi Atambua artinya tempatnya hamba-hamba suanggi yang konon di daerah ini dipergunakan oleh para raja sebagai tempat pembuangan para suanggi yang mengganggu masyarakat.  Kemudian dalam perkembangannya kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “M” . Hal ini dapat saja terjadi dengan tidak sengaja karena fonem “B” dan “M” masih memiliki titik artikulasi yang sama sehingga mampu mempertahankan kelancaran ucapan.
1.      Masa Pendudukan Belanda
v  1966-1911: Atapupu pernah jadi pusat Pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan ini. Sebelumnya Belanda menjalankan pemerintahan dari Kupang (ibu kota propinsi NTT sekarang)
v  1911-1916: Beredao, yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis, telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda
v  1916-1942: Pusat Pemerintahan Belanda pindah dari Atapupu ke Atambua (Ibu Kota Kabupaten Belu sekarang)


2.      Panitia Pemerintahan Sementara (PPS) Swapraja Belu terbentuk
20 September 1923: Controleur Belu, Van Raesfild Meyer menerbitkan memori tentang Struktur Pemerintahan di Wilayah Belu, yang meliputi seluruh wilayah Belu plus Insana, dan Biboki di TTU (sekarang)
3.      Belu dibawah Dai Nippon
v  20 Pebruari 1942: Tentara Jepang mendarat di Batulesa, Kab. Kupang (sekarang), di bawah pimpinan Jendral Hayakawa.
v  8 Maret 1942: Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang
v  April 1942: Tentara Dai Nippon masuk Atambua. Controleur Belanda, Mr. H.C. de Haan dan keluarga ditawan.
v  Pemerintahan Jepang di Belu dikendalikan dari laut oleh Onderafdelling yang dipimpin pembesar Jepang dengan sebutan : Atambua Bun Ken.
v  Romusha: Sistem kerja paksa diterapkan Jepang atas rakyat Belu. Rakyat wajib membuat lubang-lubang perlindungan dan pertahanan bagi tentara Jepang (masih ada di Teluk Gurita sampai sekarang)

4.      Lahir Kabupaten Belu
v  6-8 Agustus 1945: Jepang menyerah kepada AS (sekutu), atas seruan Kaiser Tenno Heika. Berakhir pula pendudukan tentara Dai Nippon di Indonesia termasuk Belu.
v  29 Oktober 1958: Lahirlah UU No. 69 Tahun 1958, tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan terbentuk pula Daerah Tingkat II Belu
v  Pejabat Pemerintahan Belu : Alfonsius Andreas Bere Tallo sebagai Kepala Daerah Tingkat II Belu
v  20 Mei 1959: DPRD Peralihan Daerah Tk. II Belu yang terdiri dari 15 Anggota dengan Ketua B.J Manek dan Wakil Ketua C. Mau
v  16 Pebruari 1960: Bupati pertama terpilih atas nama A.A. Bere Tallo, dan dilantik oleh Gubernur NTT W.J. Lalamentik pada 9 Mei 1960

B.   ASAL – ASUL SUKU BELU

       I.            Menurut cerita-cerita yang diwariskan sampai sekarang di Daerah.
MALAKA adalah : tanah asal-usul Belu. Sedari masih kecil bila kita mendengar makoan-makoan dan orang tua-tua atau pemuka adat membawa syair Tetun HOLA LIA NAIN, maka kita sering mendengar SINA MUTI MALAKA LARANTUKA BABOE. Bila mereka menyebut nama ini, tiap orang terus tahu, yang dimaksutkan ialah : Tanah Asal Nenek Moyang Beluyang dulu berlayar dari Malaka, meninggalkan tanah airnya dan mencari tempat baru untuk dihuninya. Nenek oyang suku Belu dari Malaka dalam pelayarannya ke Timor, melalui Larantuka.

Berikut ini adalah kumpulan bermacam-macam cerita dari makoan-makoan dan pemuka-pemuka adat di wilayah Belu, baik berasal dari Belu utara maupun dari Belu Selatan. Ini di kumpulkan oleh R.B.A.G. VROK LAGE SVD (±1952) dalam kerjasama dengan para makoan dan beberapa guru, antara lain Bupati Daswati II Belu sekarang (hingga tahun 1968) A.A BERWE TALLO, yang mahir berbahasa Belanda dan bertugas sebagai penterjemah untuk P. VROK LAGE.

1)      Menurut  Makoan-makoan dari FATUARUIN:
Mula-mula datang nenekmoyang tiga bersaudara dari Malaka Likansala melalaui Larantuka (Flores) terus ke Kupang, dari dari Kupang ke Fatumea melalui Hali knain Kalilin dan terus ke Marlilu. Nama ketiga nenek bersaudara itu : NEKIN MATAUS ke Likusaen, SAKU MATAUS ke kerajaan Sonbai, dan BARA MATAUS tinggal di FATU ARUIN.

2)      Cerita kedua berasal dari DIRMA:
Menurut makoan disitu : Bei Taeko yang bertempat tingal di Malaka mengirim tiga orang anaknya lelaki yang berlayar dengan kapal ke Timor, bersama dengan pengikut-pengikutnya. Dari Sinamuti Malaka mereka berlayarmelalui Betawi dan Batavia, Kalaban atau Kalabahi, Larantuka-Flores, Babo-Dilly parasa terus ke Boonaro. Mereka lalu ke Fatumea Raioan atau daerah Portugis. Ketiga putra itu bernama : LOROSANGKOE, LOROBANLEO, dan LORO SONBAI. Yang pertama tinggal di Debululik atau Welaka, yang ke dua di sanleo atau Dirma, dan yang ketiga ialah LORO SONBAI, terus kebagian barat timur ialah kebagian Dawan. Kemudian membawa lima orang yang dianugerahkan Tuhan: HARE LOROK, BATAR LOROK, MELI (AIKAMELIN), LOROK dan BUI LOROK serta TORA LOROK.
Kelima orang tersebut di tanam hidup-hidup dalm tanah ke sampai Timor. Dalam tempo beberapa hari saja tumbuhlah jagung, padi dua maca, jewawut atau tora, kayu cendana atau aikamelin, di kebun-kebunnya. Kesimpulannya dan cerita ini ialah jagung, padi, kayu cendana, jewawut, dibawah oleh nenek moyang itu dari tanah asal Sinamuti Malaka, dan kebun tempat lahan pertanian bagi kelima orang itu namanya TOOS KUKUN.

3)      Dari NAETIMO:
Menurut makoan-makoan dari Naetimo nenek moyang pertama asalnya dari Sinamuti Malaka, melalui Larantuka atau Larantuke, Bauwoe, Parasa atau Timor Dili terus ke Lakaan dari situ terus ke Nainait. Di nainait mereka menetap. Nenek moyang itu bernama AGON dengan isterinya LURUK. Mereka mempunyai anak, dan anak-anak itu membentuk Fukun Hat atau Uma Hat yakni: Empat suku yang terkenal dengan nama RIN BESI HAT, UMA KAKALUK KMESAK, UMA FUTUHUR, UMA SUKUR SOU, dan UMA DIN DULUR. Nenek moyang pertama menemui suku asli Belu yakni : MELUS di Naijait.

4)      Dari DAFALA:
Menurut Dato Katuas Tafala atau nenek moyang TITUS MORUK, nenekmoyang pertama itu dating dari Sinamuti Malaka melalui Ninobe Raihenek atau Makasar, terus ke larantukadan Bauwoe sebuah tempat di Larantuka. Tapi sebelum ke Larantuka mereka dari Makasar melalui Palu Kusu atau dekat dengan kepulauan Kei, pulau loi, pulau Abe, dan pulau Kae atau Kei. Mereka mendarat di Hale, LeonSumamar di dekat Timor Dilimereka lantas menyusur Mot aloes atau sungai Loes, terus Ke Siata mauhalek di Lasiolat. Berjalan terus ke ren Lakmau, dari situ terus Tua Lasi-Lasi Olat baru kemudian terpencar keseluruh Belu. Nenek moyang pertama umumnya mendarat dibahagian pantai utara Belu. Dikatakan pertama nenek moyang itu keluar dari batu, ini dimaksudkan mereka bertempat tinggal dalam gua-gua batu ketika belum diperdirikan rumah-rumah yang baik pada saat pertama kali orang di Belu, yang sama seperti cerita makoan-makoan di Dirma.
Kedua nenek moyang pertama yang terkenal sebagai Bot Leten dan Bot kraik ialah Bei Lelar dan Bei Seran Taek, yang punya anak-anak para Lelar dan Abu Lelar serta Asa Taek dan mau Taek.

5)      Dari LASIOLAT:
Menurut makoan-makoan yang mula-mula menghuni daerah Fialaran-Lasiolat sebelum kedatangan nenek moyang suku Leowes dan Asutalin dari Malaka ialah suku Melus, nenek moyang yang pertama orang Melus bernama LERA BAUK  dengan istrinya bernama LENA BAUK. Mereka dianggap penduduk sli Belu sebelum datangnya suku Belu dari Malaka. Suku-suku yang datangnya dari Malaka ialah suku Leoklaran, suku Leowes, dan suku Asutalin. Dari Sinamuti Malaka mereka berlayar terus ke Larantuka –Bauboe, terus ke Hasan Maubesimendarat di Weto ke Lakaan dan dari situ ke Mota Weluli Mauhalek. Mereka menemukan seorang Melus pertama yang mendirikan rumahnya di Nawan Ruas, Aufatuk. Disebut Aufatuk karena rumahnya terbuat dari bambu dan batu. Pemuda-pemuda suku Leowes mengawini gadis-gadis dari suku Loro Bauho, bernama Balok Lorok dan Ello lorok. Mereka lalu pindah dengan anak-anaknya ke Dualasi dimana orang-orang Melus dan Asutalin sudah lebih dahulu membuat kampungnya. Dualasi kemudian mendapat nama Dualasi Sosebauk. Orang-orang pertama yang mendarat di Timor ialah Luli Luan dan Lete Luan. Asutalin juga kemudian mendarat di pantai selatan Belu. Tempatnya yang lain ialah Aidikur dari situ juga mereka ke Lakaan dan terus ke Dualasi.  Dari malak Asutalin bawa serta anjing. Suku Asutalin haramm makan daging anjing dan tidak membunuhnya.
Nenek moyang suku Leoklaran dating lebih dahulu dari suku Leowes, dan Asutalin dan mengalahkan suku Melus ke Tasimane lainnya dibunuh dan hanyut terbawa arus. Yang sisanya masih ada di Haliren, Aikamelin, rend an Motaain. Dalam mengalahkan suku Melus itu ada kerjasama dengan suku Leowes yang datang kemudian itu. Setelah suku Melus itu diusir dan dikalahkan oleh suku Leoklaran dan Leowes mula saling berebut kekuasaan ini, suku Leowes yang kemudian yang akhirnya menduduki tahta dan berkuasa sebagai raja diFialaran sampai kini. Caranya ialah bukan saling memerangi, melainkan dengan menguji ketangkasan dan kecerdasan saja. Siapa yang cepat makan ialah yang berkuasa dan waktu nenek moyang Leowes pergi mencari musang dihutan, nenek moyang Leoklaran disuruh memanjat pohon, dibawah pohon tertancap tombak mas, oleh nenek moyang Leowes. Entah bagaimana jadinya nenek moyang Leoklaran jatuh dari pohon dan persis perutnya tertikam pada tombak mas tadi, dengan itu nenek moyang Leowes yang berkuasa . Namun selanjutnya hubungan antara suku Leowesa dan suku Leoklaran , pun sampaikini tetap erat lebih dipererat oleh perkaeinan antara dua suku.

6)      Dari ASUMANU:
Menurut makoan dari Asumanu nenek moyang pertamanya datang dari Malaka dengan sebuah kapal namanya Batarian, mendarat dipuncak Lakaan yang merupakan daratan yang muncul waktu itu dari air (agaknya yang lain masih merupakan tempat yang masih digenagi air laut). Kapten kapal itu namanya Mangelains, apakah itu yang dinamakan dengan Magelhaens??

7)      Dari AITON
Menurut makoan-makoan dari Aitoun nenek moyang pertama datang dari Sina Mutin Malaka dengan tiga buah kapal:
a.       Kapal yang dijuluki dengan Ro Manu Lain, Biduk Manu Lain.
b.      Rokfautahan, Biduk Kfautahan
c.       Ro Mara Does, Biduk Mara Does. Tempat lainnya disebut HeranBa weluli, Aitoun rua mane, Foho sabu Lakan kaisahe.

8)      Dari MAUMUTIN:
Makoan-makoan maumutin menceritakan tentang asal-usulnya bahwa nenek moyang pertama datangnya dari Sina (Siam/birma) dan dari Sina Mutin  Malaka Melalui Larantuka Baboe, lamahala (Adonara) Lamahera (lomblen) terus ke Kamera (dekat Timor Dili). Kemudian kembali ke Lamalera untuk mengambil istri dari sana. Kemudian mereka kembali lagi ke Sina Mutin Malaka karena tidak dapat istri di Lamalera. Dimalaka mereka dapat memperoleh istri dengan kayu cendana yang dibawanya. Di Maumitin sendiri kayu cendana tidak ada karena itu kemudian nenek moyang pindah ke Maukatar didaerah bagian portugis . Untuk memperingati nenek moyang yang datang dengan tiga kapal itu, didirikan tiga foho (tugu kecil) : Foho Liurai, Foho Tahan Leki Bauk Leowalu.

9)      Dari LIDAK:
Nenek moyang datang dari Sina MUtin Malaka melalui Larantuka Baboe We bau, Asufuik, Maubesi, Wehali lalu terus ke Lidak. Sumber lainnya menggatakan mereka mendarat dipantai utara Timor di Timor Dili Parasa. Dari Parasa mereka juga membawaair dan ketika mereka mendarat direceki tempat itu denga air. Mereka hanya mengetahui bahwa orang melus bertempat tinggal di  Silawan. Kemudian menyusul lagi beberapa suku yang kelak akan berkuasa di Belu. Mereka datang dari Malaka nenek moyang ada tujuh pasang, empatnya tinggal di Malaka tiganya berlayar ke Timor melalui Larantuka-Bauboe, satunya tinggal di Fatumea, kedua tinggal di Leowalu (dimarae0 dan yang ketiga tinggalnya di Motaain, namanya Dasi Bada Rai.

10)    Sabu Mau-Belu Mau dan Timau:
Adalah suatu yang sangat populer dikalangan penduduk Belu dan Sabu Rote ialah mengenai asal-usul mengenai nenek moyang suku Belu dan Sabu Rote. Demikian sudah dari kecil kami sudah mendengar cerita tentang Belu Mau, sabu Mau, dan Ti Mau dari orang tua dan kakek kami. Ketiga nenek ini adalah beradik kakak. Sabu Mau dan Ti Mau bersama dengan seluruh keluarganya berlayar dengan kapal ke Timot dan mendarat di bagian utara Belu yakni di teluk Gurita (di Atapupu) yang turun kedarat untuk mencari tempat tinggal baru di daerah Belu sekarang ialah Belu Mau dengan keluarganya. Sedang kedua nenek Sabu dan Ti Mau berlayar terus kearah barat Timor, menyususr pantai untuk mencari tempat tinggalyang baru dan tempat dan untuk di milikinya. Tapi sebelum ketiganya berpisah, diadakan perjanjian berikut : “Bila kelak mereka bertemu kembali atau anak-anak maupun turunan mereka, tidak boleh saling mengawini, tidak boleh saling berperang, saling mnerima dan menganggap sebagai kakak-beradik atau saudara-saudari sekeluarga saja”.  Perjanjian ini masih di ingat samapai dengan saat ini, meskipun masih ada praktek kawin mwin sudah sering terjadi antara suku Belu dan suku rote. Untuk saling memerangi atau berkelahi sampai sekarang ini, masih tetap dihindarkan mengingat perjanjian ketiga nenek bersaudara tadi.


 II.   Asal-usul suku Belu (Sabu – Rote) menurut penyelidikan
Ahli-ahli Ilmu Bangsa-bangsa dan Ahli-ahli lainnya. Sudah banyak ahli-ahli yang menyeliki suku Belu (dan Rote), disamping penyelidikan – penyelidikan utama, seperti: Grijzen, H.J. (mededeelingen Omret Beloe of midden Timor. V.B.G., Batavia, vol.54, Bag.III) dan vrok lege. B.A. (1953) : Ethnogogihie der Belu in zentral Timor, Leiden, dalam 3 jilid. Dalam menyelidiki Suku Belu mereka dari pandangan yang hampir serupa. Demikian seperti :

1)      Heijmering G. (Geschiedenis van Timor, 1847, vol. 9, bagian III, pg. 1 – 62 dan 121 -232), dan veth, P.j. (Het eiland Timor, De Gids, Amsterdam, Vol.19. Bgn. I, pg. 545 – 611 dan 695 – 737 : bgn. 55 – 100), dalam tahun 1985”, dan juga Bastian A. (1885 – Timor Und Umliegende Inseln. in Indonesian oder die inseln des Malayischen Archipels, Berlin, Lieferung 2, pg. 1 -31). ketiga penyelidik itu berpendapat bahwa, bahwa ada perbedaan yang nyata antara suku Belu dan suku asli Timor : suku Atoni. menurut mereka suku Atoni lebih mirip dengan orang Papua, sedangkan suku Belu punya kesamaan yang besar dengan penduduk di bagian barat indonesia.

2)      Menurut pandangan-pandangan antopolog modern : Timor serta pulau-pulaunya adalah suatu daerah peralihan di mana bertemu dan saling pengaruh antara komponen ras Melayu Indonesia dengan ras Melanesia (in sensu lago). Agaknya suku marae dan kemak menunjukkan elemen Melanesia yang lebih tua, dari pada suku Belu dan Sabu Rote yang baru masuk kemudian di Timor. Suku Belu dan Rote nyatanya memiliki tempat tinggi yang paling tampan, ditanah rata sepanjang pantai dan terus ke pedalaman, namun di sepanjang lembah sungai lalu sepanjang jalan. Antropolog-antropolog sependapat bahwa unsur Melanesia nampak sangat kuat pada penduduk asli Timor : suku Atoni di Dawan (orang pegunungan yang jumlahnya kira-kira 300.000 penduduk mendiami daerah-daerah pegunungan Timor Indonesia. Tokoh badan mereka agak berlainan dengan tetangga-tetangganya: suku Belu-Sabu-Rote dan Kemak Marae. Mereka agak pendek dengan bentuk tengkorak Brachichepel (tengkorak pendek) dengan warna kulitnya coklat kehitam-hitaman, rambutnya keriting, sangat mirip orang-orang papua. (cf. ormeling, F.J. Dr. The Timor problem, 1957 hal. 66-67).

3)      Menurut penyelidikan Biljmer, H.J.T. (outlines of Antropology of the Timor Archipelago, Weltevreden-Batavia, 1929, pg. 92-92-95—97-99), bahwa pada individu-individu suku bangsa Belu nampak ciri-ciri ras Negroit secara berdampingan atau campur baur. Sedangkan pda suku Atoni (dawan) nampak ciri-ciri Melanesoit dan Australoid. Dia berkesan bahwa pada suku Atoni ia tidak rasa lagi bahwa ia di antara orang Melayu. Mereka merupakan kesatuan. Dia menyelidiki juga suku Manggarai dan mendapatkan adanya ciri khas tipe semitis pada mereka. Pada suku Ngada terdapat tipe Melanesoid. Pada suku Adonara (dan Flotim) ada tipe semitis, Negroid dan Papua. Demikian Biljmer.

4)      Menurut nona Keers W. (an Antropological Survey of the estern litllesunda island Mededeelingen no. 74 diterbitkan oleh Koninklijke verehining indisch institut, Amsterdamtahn 1948) bahwa ciri-ciri Melanesia agaknya tersebar dibanyak tempat di Timor. Tetapi yang dianggapnya utama ialah apa yang dinamakan proto Melayu yang besar pengaruh di Timor. Tapi yang dianggapnya utama ialah apa yang dinamakan Elemen proto Melayu, yang bear di Timor, dan rasini yang membentuk penduduk sekarang juga. Inilah juga pendapat Biljmer (1929) dan Lamres (1948) yang memastikan bahwa unsur Melayu yang lebih muda benar-benar terdapat di daerah Belu selain unsur Melanesia.

5)      Mengenai suku Marae dan Kemak, yang ada di Belu Menurut Grijzen (1904) kira-kira mereka sudah tinggal lama di Belu.

6)      Menurut Nona Keers (1948) susku Marae Kemak, yang ada di Belu berbeda dengan suku Melayu Indonesia karena frekwensi yang tinggi dan tengkorak kepala yang berbentuk Delichecephalik (tengkorak lonjong) dan tokoh badan yang jauh lebih tinggi.

7)      Menurut Capel (1944) bahwa Buna(bahasa Marae) mirip sekali dengan bahas-bahasa papua. Sedang menurut Nona Keers 91948) susku Kemak punya pertalian erat dengan suku Marae. Bahasanya mirip sekali dengan bahasa Buna (caell 1944).
8)      Mengenai suku Rote-Sabu seperti telah di katakan tadi seasal dengan suku Belu. Mereka datang berkelompok-kelompok, lain turut Flores lainya lagi via Timor. Tanah asalnya pulau Seram (?) menurut ten Kate (1849) bahasa dan kebudayaan Rote sama dengan Belu. Hanya Rote mempunyai unsur Melayu lebih kuat.

9)      Terra (1953) punya anggapan bahwa yang mula-mula punya usaha sawah dan ladang ialah suku Belu.

10)  Dalam ENCHIKLOPEDIA VAN NEDERLANDS OOST INDIE IV LEIDEN, 1921 pda halaman 323, dibahas juga tentang penduduk dari Malaka melalui Sulawesi-Flores (larantuka) terus ke Timor. Juga tentang adat-istiadat Belu dan keadaandaerahnya.

11)  H.K.J. Cowan (1963) menyelidiki, bahwa bahasa Buna termasuk salah  satu bahasa Irian Barat. Diantara lain menyebut beberapa kata seperti (n) iri, su, batohul, bi, pana, per, nei, ei, yang mirip betul dengan kata-kata dalam bahasa Irian Barat. (cf. Eydarg. T.,1. en volk, jgr. 1963, pg 387 - 400) sedang Louis Berthe (1959) dalam penyelidikannya di Lamaknen mendapat kepastian juga bahwa dalam bahasa Buna terdapat kata-kata yang mirip dengan kata-kata Melayu purba (Deutero Melayu).  (cf. Eydarg. T.,1. en volk, 1959, pg 336 dan seterusnya).

12)  Abdul Hakim (1961),  juga memuat karangannya tentang Timor, di dalamnya dituliskan tentang apa yang di dengarnya sendiri mengenai asal-usul orang Belu yang datang dari Malaka dan adat istiadatnya di Timor, di Belu khususnya.






C.   LETAK GEOGRAFIS

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhm3FhN0r0R3vuLdbP1I6iHwxTjEYmnVvSUARiDj35Ja4Z-GgSQZT1-zO2V6Oq-O-OuiKUYBz99MsgAAKnfCF7SbujWcMqI5BwFs3ljBzr2wSYIjcnTXKX13FtzNtviWuCGpthK65sD/s400/petabelu_resize.jpg

1.      Letak Geografis & Administrasi
      Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur Timur dan 8″57’ – 9″49’ Lintang Selatan. Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut:
v Sebelah Utara : Selat Ombay
v Sebelah Selatan : Laut Timor
v Sebelah Barat : Kabupaten TTU dan TTS
v Sebelah Timur : Negara Republic Democtratic Timor Leste (RDTL)

Luas administratif Kabupaten Belu adalah 2.445,57 Km2 dan menurut data Bagian Pemerintahan Desa Kantor Bupati Belu hingga tahun 2005, Kabupaten Belu terdiri atas 17 wilayah administratif Kecamatan dan 207 wilayah Desa/Kelurahan, 25 Desa diantaranya masih Desa Persiapan dan 1 Desa UPT (Transmigrasi). Ke-17 wilayah Kecamatan tersebut merupakan hasil pemekaran wilayah tahun 2004, dimana pada masa sebelum itu wilayah Kabupaten Belu hanya terdiri dari 12 wilayah Kecamatan dan 166 Desa/Kelurahan. Ke-5 tambahan wilayah kecamatan hasil pemekaran tersebut adalah Kecamatan Wewiku dan Kecamatan Weliman hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka Barat; Kecamatan Lasiolat hasil pemekaran dari Kecamatan Tasifeto Timur; serta Kecamatan Raimanuk dan Kecamatan Laenmanen hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka Timur.       

Pembagian administrasi Kabupaten Belu dapat dilihat berikut ini :
v Kecamatan Malaka Barat
v Kecamatan Malaka Tengah
v Kecamatan Wewiku
v Kecamatan Weliman
v Kecamatan Raimanuk
v Kecamatan Sasitamean
v Kecamatan Laenmanen
v Kecamatan Kobalima
v Kecamatan Tasifeto Barat
v Kecamatan Tasifeto Timur
v Kecamatan Rinhat
v Kecamatan Raihat
v Kecamatan Kota Atambua
v Kecamatan Kakuluk Mesak
v Kecamatan Lamaken
v Kecamatan Lasiolat
v Kecamatan Malaka Timur

2. Klimatologi
Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid), dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,5 0 – 33,7 0 C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,6 0C. Temperatur udara tertinggi 33,7 0C terjadi pada Bulan Nopember, sedangkan temperatur udara terendah 21,50 terjadi Bulan Agustus. Biasanya hujan turun antara Bulan Desember sampai Bulan Maret, sedangkan kemarau berlangsung antara Bulan April sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903 mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm. Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.

3. Topografi
      Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat dikelompokan atas beberapa kelompok berdasarkan ketinggian tempat diatas permukaan laut. Keadaan topografi Kabupaten Belu dirinci seperti berikut di bawah ini :
v  Ketinggian 0 – 230 m dpl seluas 98,349 Ha (40,12 %)
v  Ketinggian 230 – 500 m dpl seluas 95,958 Ha (39,12 %)
v  Ketinggian 500 – 750 m dpl seluas 30,710 Ha (12,56 %)
v  Ketinggian 750 – 1000 m dpl seluas 17,240 Ha (7,03 %)

4. Karakteristik Tanah
      Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah. 

Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari :
Kedalaman Efektif  Tanah
v  0 – 30 cm seluas 21.191 Ha (8,67%)
v  30 – 60 cm seluas 28.204 Ha (11,53%)
v  60 – 90 cm seluas 3.840 Ha (1,57%)
v  90 cm seluas 191.322 Ha (78,23%)

1)      Tekstur Tanah
Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)
2)      Drainase
Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)
3)      Erositas
Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)

5. Hidrologi
         Air tanah yang ada terdiri dari air tanah bebas dan air tanah tertekan. Air tanah bebas umumnya dangkal dan mengikuti kondisi morfologinya, sedangkan air tanah tertekan terletak jauh di dalam tanah dengan lapisan kedap air. Pada setiap kecamatan di Kabupaten Belu banyak dijumpai air tanah tertekan. Sedangkan air tanah bebas umumnya terdapat didaratan dekat pantai pada endapan alluvial dan dekat dengan permukaan tanah. 

D.   KEBUDAYAAN MASYARAKAT    

1.      Proses Upacara Adat Daerah Belu
a.       Prosesi Upacara Hamis Batar
       Upacara Hamis Batar merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Belu yang dipimpin oleh Tetua Adat nya menyambut musim petik jagung atau panen jagung, sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta.
Hamis menurut bahasa setempat berarti sukur dan batar berarti jagung. Masyarakat percaya bahwa hasil jagung yang akan mereka peroleh merupakan karunia Sang Pencipta. Rasa syukur ini diwujudkan dengan mempersembahkan jagung yang terbaik hasil panen kepada Yang Maha Kuasa.           
      Sebelum upacara dimulai para kepala keluarga turun ke kebun masing-masing untuk memetik sebuah jagung termuda dan paling bagus. Setelah itu mereka berkumpul di tempat upacara dan diadakan seleksi jagung yang paling bagus. Jagung yang paling baik kemudian diletakkan di troman (tiang agung) yang terbuat dari tumpukkan batu yang dikelilingi batu-batu kecil untuk meletakkan jagung baik yang lainnya. 
Setelah semua batu tertutup oleh jagung muda, Ketua Adat kemudian memimpin doa persembahan jagung kepada Sang Pencipta dan memohon agar jagung yang dipanen bermanfaat. Seusai berdoa, upacara dilanjutkan dengan menyebar jagung-jagung ke seluruh kebun untuk dipersembahkan kepada Penguasa Tanah, Foho Norai, yang telah memberikan tanah dan kesuburan jagung.
Upacara dilanjutkan dengan batar babulun, pencabutan pohon jagung secara utuh, untuk dibawa ke kampung dan diikat pada tiap-tiap kayu tiang agung yang sesuai dengan fungsinya, yaitu karau sarin(untuk beternak sapi), fahi ahuk (untuk beternak babi), dan fatuk(untuk orang-orang tua atau ektua adat).
Seiring dengan upacara tersebut diadakan batar fohon, yaitu acara pemotongan batang buah jagung menjadi 12 potong untuk diserahkan kepada Ketua Adat, dan selanjutnya Ketua Adat menentukan waktu upacara inti.
Upacara inti hamis batar itu sendiri merupakan proses persembahan sesaji/jagung-jagung yang baik yang telah dikupas dan dibakar kemudian dimasukkan kedalam gantang penyimpanan jagung yang disebut hane matan untuk dipersembahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat (We Lukik, Rai Bot dll).
Pada proses pembakaran jagung, api yang digunakan merupakan api khusus yang disebut Tahu Hai yang dibuat oleh ketua adat dengan menggosokkan sepotong batu berwarna merah dengan sepotong besi yang disertai serbuk dari pohon enau. Pembakaran dilakukan dengan tiga buah tungku yang diiringi dengan pembacaan doa oleh ketua adat.           
b.      Hatama Manaik
Upacar hatama manaik merupakan pelengkap upacara hatama batar, yaitu proses upacara persembahan jagung muda (manaik) dari masyarakat kepada pemimpin masyarakat/raja sebagai ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan atas kepemimpinannya. Dalam proses upacara hatama manaik dari awal hingga akhir diatur oleh penghubung raja yang biasa disebut Kaburai.     
(Sumber : Usman D. Ganggang, tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Media Karya, November 1994)

2.   Tari Likurai dari Malaka                 http://wisata.nttprov.go.id/images/phocagallery/Belu/thumbs/phoca_thumb_l_tari_likurai.jpg
TARI LIKURAI berasal dari Kabupaten Belu. Tarian Likurai dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang ditarikan ketika menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dari medan perang. 
Konon ketika para pahlawan yang pulang dari medan perang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan). Maka para feto (wanita) cantik atau gadis-gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para Meo (pahlawan) dengan membawakan tarian Likurai dan didampingi beberapa mane (laki-laki) sambil menari (haksoke) membawa pedang.
Likurai itu sendiri dari bahasa Tetun (suku yang ada di Belu) mempunyai arti menguasai bumi. Liku artinya “menguasai” dan Rai artinya “tanah dan bumi”. Lambang tarian ini adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau menaklukan bumi, tanah air tercinta.
Tarian adat ini ditarikan oleh feto-feto kebas (wanita-wanita cantik) dengan menggunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk lonjong terbuka dan salah satu sisinya dan dijepit dibawah ketiak sambil pukul dengan irama gembira dan berlenggak lenggok diikuti dengan derap kaki yang cepat sesuai irama pukulan.
Beberapa pria menari (haksoke) dengan membawa pedang yang berhiaskan perak sambil mengancungkan pedang atau perang sebagai ekspresi kegembiraan dan kebanggaan sambil berteriak memberikan keberanian menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang dengan membawa kepala musuh sebagai lambing kemenangan. Kepala musuh yang dipenggal itu dibuang ditanah dan ditendang sebagai tanda penghinaan dan kemudian diletakkan di atas altar persembahan terbuat dari susunan batu yang disebut Ksadan dengan upacara adat (mantra).
Sekarang tarian Likurai digunakan untuk menjemput para pejabat/tamu atau acara-acara hiburan lainnya dan menjadi tarian yang paling terkenal dari Kabupaten Belu.

                                    














BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Suku Belu yang berada di daerah Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur Timur dan 8″57’ – 9″49’ Lintang Selatan. Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut :
v  Sebelah Utara : Selat Ombay
v  Sebelah Selatan : Laut Timor
v  Sebelah Barat : Kabupaten TTU dan TTS
v  Sebelah Timur : Negara Republic Democtratic Timor Leste (RDTL)
      Luas administratif Kabupaten Belu adalah 2.445,57 Km2 merupakan suku yang memiliki berbagai kebudayaan, mulai dari adat istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, serta sejarah terbentuknya Suku Belu yang katanya sangat erat kaitanya dengan suku Rote, dan Sabu dan lain-lain.            Semua itu membuktikan bahwa Suku Belu merupakan suku yang kaya akan budaya daerah. Tidak hanya dibidang kesenian, Suku Belu juga memiliki berbagai macam budaya daerah yang sangat menarik. 

B. SARAN
      Budaya daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan nasional, maka segala sesuatu yang terjadi pada budaya daerah akan sangat mempengaruhi budaya nasional. Atas dasar itulah, kita semua mempunyai kewajiban untuk menjaga, memelihara dan melestarikan budaya baik budaya lokal atau budaya daerah maupun budaya nasional, karena budaya merupakan bagian dari kepribadian bangsa.